Table of Contents
Tak bisa dimungkiri bahwa pola konsumsi dan aktivitas harian manusia menghasilkan berbagai jenis limbah, termasuk limbah domestik. Faktanya, limbah domestik adalah jenis limbah yang paling dekat dengan kita, lho.
Memahami definisi, jenis, dampak, dan cara pengelolaannya adalah hal yang penting dilakukan untuk menjaga lingkungan.
Artikel kali ini akan membantu Warga Asri lebih paham tentang limbah domestik sehingga dapat mengambil langkah yang tepat. Yuk, simak penjelasannya hingga akhir!
Apa Itu Limbah Domestik?

Limbah domestik adalah jenis limbah yang berasal dari aktivitas manusia, baik dalam lingkup rumah tangga, perdagangan, sekolah, perkantoran, dan sejenisnya.
Dari sini dapat dipahami bahwa seiring meningkatkan aktivitas manusia, volume limbah domestik akan terus bertambah dan menimbulkan masalah jangka panjang jika tidak dikelola dengan baik.
Jenis-Jenis Limbah Domestik
Setelah memahami definisi limbah domestik, mari ketahui jenis-jenisnya yang umumnya ditemukan sehari-hari. Berikut penjelasannya:
Limbah Cair Domestik
Limbah cair domestik meliputi air bekas mandi, mencuci, aktivitas berkebun, cairan sisa makanan, serta kotoran manusia. Jenis limbah domestik ini mengandung bahan kimia dari produk pembersih, minyak, dan kuman.
Lebih lanjut, limbah cair domestik dibagi lagi menjadi greywater dan blackwater. Greywater mengacu pada limbah nonkakus, seperti cairan bekas memasak dan mencuci, sedangkan blackwater mengacu pada limbah kakus atau kotoran makhluk hidup.
Limbah Padat Domestik
Limbah padat domestik umumnya berupa barang atau bahan yang tidak dibutuhkan lagi oleh penggunanya. Limbah ini dibagi menjadi dua jenis, yaitu limbah organik dan anorganik.
Hal yang membedakan keduanya adalah asal dan kemampuan penguraiannya. Limbah organik berasal dari makhluk hidup dan lebih mudah terurai, sedangkan limbah anorganik berasal dari bahan yang sulit atau bahkan tidak bisa terurai dengan proses biologis.
Beberapa contoh limbah domestik organik adalah sisa makanan, sayur, buah, dan dedaunan kering. Sementara itu, contoh limbah domestik anorganik meliputi pakaian, peralatan rumah tangga, alat elektronik, kertas, logam, dan kaca.
Limbah B3
B3 merupakan singkatan dari Bahan Berbahaya dan Beracun. Limbah ini dikatakan berbahaya karena umumnya mudah terbakar, mudah meledak, reaktif, dan korosif, dan berisiko menyebarkan virus atau bakteri.
Limbah B3 bisa berwujud padat, cair, maupun gas. Beberapa contoh limbah B3 adalah obat kedaluwarsa, kaleng aerosol kosong, oli, baterai, bahan kimia, limbah medis, lampu bohlam, dan pestisida bekas.
Baca juga: Ragam Limbah Cair, Ini Ragam Manfaat dan Contohnya!
Dampak Limbah Domestik

Seperti yang sebelumnya telah disebutkan, pengelolaan limbah domestik yang tidak tepat dapat menimbulkan berbagai masalah dan bahaya. Adapun dampak negatifnya adalah sebagai berikut:
- Masalah kesehatan: Air yang terkontaminasi limbah cair dari kotoran manusia berisiko memicu diare, gatal-gatal, dan Infeksi Saluran Kemih (ISK) karena mengandung bakteri E.coli. Adapun limbah padat yang membusuk bisa menghasilkan gas beracun seperti metana, amonia, dan hidrogen sulfida.
- Pencemaran air dan tanah: Limbah cair domestik yang dibuang sembarangan dapat mencemari sungai, danau, dan sumber air lainnya. Sementara itu, limbah padat yang ditimbun di tanah bisa melepaskan zat yang membahayakan habitat alami hewan tanah.
- Berkurangnya estetika: Limbah yang berserakan atau mengganggu warna alami sungai tentu sangat mengganggu pandangan dan mengurangi keindahan lingkungan.
Cara Mengolah Limbah Domestik
Ada banyak cara untuk mengolah limbah domestik, beberapa di antaranya adalah:
Memilah Limbah
Memilah limbah dapat dilakukan pada limbah domestik padat, baik organik maupun anorganik. Limbah organik bisa diolah menjadi pupuk organik atau kompos. Proses pengomposan dapat dilakukan di fasilitas pengomposan kota ataupun secara mandiri di rumah.
Sementara itu, limbah anorganik bisa disetorkan pada bank sampah agar didaur ulang menjadi barang yang bernilai guna. Proses daur ulang bisa menghasilkan barang bernilai guna, seperti bahan kemasan, kerajinan dekoratif, bahan isian boneka, dan pot tanaman.
Mengolah Greywater Menjadi Sumber Air Alternatif
Limbah greywater bisa diolah menggunakan bak filter organik hingga menghasilkan air yang kembali jernih untuk memenuhi keperluan non-potable atau selain konsumsi. Jadi, limbah tidak langsung dibuang ke tanah atau saluran air, melainkan ditampung dalam bak tersebut.
Khusus air bekas cucian alat makan akan menuju bak penangkap lemak. Selanjutnya, semua limbah cair akan masuk ke bak filter yang sudah diisi pasir, tanah, dan tanaman penyaring. Kamu bisa memilih kangkung, eceng gondok, atau kiambang.
Air yang dihasilkan dari proses ini bisa digunakan untuk membersihkan toilet, mencuci kendaraan, atau menyiram tanaman. Cara ini efektif untuk mengatasi defisit air, terutama di daerah perkotaan.
Jurnal Sumberdaya Alam dan Lingkungan membuktikan bahwa greywater dapat dimanfaatkan sebagai air media hidroponik karena kadar pencemarnya masih memenuhi standar untuk dimanfaatkan di bidang pertanian. Bahkan, penggunaan greywater juga berdampak positif terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman sawi dibandingkan air PDAM dan campuran.
Baca juga: Upaya-Upaya untuk Mengatasi Pencemaran Lingkungan Lengkap!
Mengubah Plastik Menjadi Aspal Plastik dan Minyak Pirolisis
Faktanya, sampah plastik yang sering kita hasilkan bisa diolah sedemikian rupa hingga menjadi aspal plastik dan minyak pirolisis.
Perlu diketahui bahwa teknologi aspal plastik adalah campuran yang mengandung cacahan kantong plastik atau High Density Polyethylene (HDPE). Menariknya, penambahan sampah plastik low value jenis kresek diketahui bisa meningkatkan stabilitas jalan hingga 40%, lho.
Sementara itu, pirolisis merupakan proses penguraian sampah organik menjadi bahan bakar ramah lingkungan, baik berwujud cair, gas, maupun residu padat. Prosesnya melibatkan suhu tinggi dan area dengan udara terbatas atau bahkan tanpa udara.
Nah, dua teknologi di atas dijalankan oleh Chandra Asri Group hingga menghasilkan inisiasi baru, salah satunya aspal plastik yang telah digunakan di lebih dari 120 km jalan di seluruh Indonesia.

Ada pula bahan bakar terbarukan hasil pirolisis sampah plastik, yaitu minyak pirolisis PLUSRI. Minyak hasil pirolisis sampah plastik ini sudah digunakan oleh berbagai pelaku industri lokal, termasuk Batik Krakatoa Cilegon. UMKM batik asal Kota Baja ini menggunakan PLUSRI sebagai bahan bakar dalam memanaskan malam dan mewarnai produk batiknya.

Sekian penjelasan mengenai limbah domestik dan upaya untuk mengolahnya dengan baik. Pada akhirnya, limbah domestik adalah jenis limbah yang perlu mendapatkan perhatian serius karena tanpa disadari jumlahnya terus meningkat akibat aktivitas kita sehari-hari.
Di samping cara pengelolaan limbah domestik di atas, kamu juga bisa melakukan berbagai kegiatan pelestarian lingkungan dengan bergabung di Indonesia Asri. Melalui program #AksiAsri, kamu bisa bergabung dalam upaya peduli lingkungan dengan format yang seru.
Yuk, daftarkan dirimu sekarang dan jadi Warga Asri yang aktif ambil bagian sebagai agen pelestarian lingkungan!
Baca juga: Perbedaan Sampah dan Limbah, Jangan Sampai Tertukar!









