Dekomposer: Kenali Jenis, Proses, hingga Contohnya

Oleh Tim Indonesia Asri

Saat kehidupan suatu organisme berakhir, terjadi proses penting dalam ekosistem. Proses ini dilakukan oleh organisme bernama dekomposer. Mengingat pentingnya proses ini, bisa dikatakan dekomposer adalah salah satu kunci penting dalam menjaga keseimbangan alam.

Di artikel ini, kamu akan menemukan jawaban dan fakta lengkap mengenai dekomposer, mulai dari definisi, jenis, peran dekomposer dalam ekosistem, hingga gambaran proses yang mereka lakukan. Simak penjelasan berikut ini!

Apa Itu Dekomposer?

Dekomposer adalah organisme yang menguraikan senyawa organik tak terpakai menjadi zat yang lebih sederhana agar bisa digunakan oleh tanaman atau hewan lain. Proses penguraian yang dilakukan oleh dekomposer disebut dekomposisi.

Tentu kamu sering mendengar istilah produsen dan konsumen. Dalam konteks lingkungan, produsen adalah organisme yang mampu menghasilkan makanan sendiri lewat fotosintesis. Adapun konsumen memperoleh energi dengan memakan tanaman atau hewan lain.

Selain produsen dan konsumen, dekomposer juga memegang peran dalam interaksi di suatu ekosistem, Interaksi ketiganya akan mendukung keseimbangan alam dan kesuburan tanah.

Kontribusi dekomposer terhadap peningkatan kesuburan tanah juga dijelaskan dalam artikel pada JOMPA ABDI: Jurnal Pengabdian Masyarakat. Artikel tersebut mengulas proses pembuatan alat pengolah limbah organik rumah tangga menggunakan bahan yang ramah lingkungan. 

Penelitian yang melibatkan anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Idum Abadi ini menghasilkan kompos yang efektif untuk menyuburkan sayuran dan tanaman hias di pekarangan. Dalam prosesnya, penggunaan teknologi dekomposer bisa membuat penguraian limbah berlangsung lebih cepat, efisien, dan ramah lingkungan.

Peran Dekomposer dalam Ekosistem

Sebelumnya telah disebutkan bahwa peran utama dekomposer adalah menguraikan sisa organisme mati. Namun, hal tersebut bersifat sistematis. Artinya, peran dekomposer tak terbatas pada proses penguraian, melainkan juga mencakup hal-hal berikut:

  • Membersihkan lingkungan: Proses penguraian dapat mencegah risiko penumpukan bangkai yang mengakibatkan pencemaran lingkungan. Masing-masing rumah bisa mengoptimalkan upaya dekomposisi melalui pengolahan sampah dapur menjadi pupuk kompos. Sisa sayur, buah, dan daun bisa dimasukkan ke dalam ember khusus untuk dibiarkan membusuk agar bisa digunakan dalam menjaga kesuburan tanah.
  • Memberikan ruang bagi kehidupan baru: Area yang sebelumnya tertutup oleh sisa organisme mati dapat diubah menjadi ruang bagi tumbuhnya organisme baru. Hal ini dibutuhkan untuk mempertahankan biodiversitas.
  • Menjaga siklus biogeokimia: Dekomposer berperan dalam perputaran unsur-unsur kimia penting (seperti karbon, nitrogen, dan fosfor) dari makhluk hidup ke lingkungan, dan kembali lagi ke makhluk hidup.
  • Mengatur rantai makanan: Senyawa organik kompleks yang diubah menjadi senyawa anorganik sederhana dapat dimanfaatkan oleh produsen untuk tumbuh. Jadi, kehadiran dekomposer dalam rantai makanan membantu menjaga kestabilan di dalamnya.
  • Melakukan fiksasi dan penguraian nitrogen: Utamanya, fiksasi nitrogen dilakukan oleh bakteri khusus, seperti Rhizobium. Beberapa dekomposer berperan mengubah nitrogen menjadi bentuk yang lebih sederhana, seperti amonia, nitrit, dan nitrat. Selanjutnya, elemen tersebut bisa diserap oleh tumbuhan dan digunakan oleh organisme lain.

Baca juga: Piramida Ekologi: Jenisnya dan Cara Menjaga Ekosistem

Jenis-Jenis Dekomposer

Jenis-Jenis Dekomposer

Terdapat empat jenis dekomposer yang terlibat dalam proses dekomposisi, yaitu:

Mikroba

Mikroba merupakan organisme sangat kecil yang hanya bisa dilihat dengan mikroskop. Organisme yang termasuk kategori mikroba adalah jamur, bakteri, dan protozoa. Di antara ketiga mikroba tersebut, bakteri paling banyak ditemukan di alam.

Mikrofauna

Seperti halnya mikroba, mikrofauna juga berukuran sangat kecil sehingga tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Contoh mikrofauna yang melakukan dekomposisi adalah protozoa, seperti nematoda, cacing pipih berukuran kecil, rotifera, dan tardigrada (invertebrata berkaki delapan).

Meiofauna

Jenis dekomposer yang ketiga adalah meiofauna. Organisme ini ukurannya berkisar antara 0,1–1 mm. Jenis meiofauna antara lain nematoda (cacing gilig), tardigrada, dan rotifera.

Makrofauna

Seperti namanya, makrofauna memiliki ukuran yang lebih besar dibanding ketiga jenis sebelumnya, yakni lebih dari 1 mm. Organisme yang tergolong makrofauna adalah siput, serangga, Lumbricus (cacing tanah), dan kecoa. 

Proses Dekomposisi

Pada umumnya, dekomposisi berjalan melalui beberapa tahapan. Berikut adalah masing-masing penjabarannya:

Fragmentasi (Fragmentation)

Tahap awal dalam proses dekomposisi ini dilakukan oleh detritivor, misalnya cacing tanah dan serangga tanah. Pada tahap ini, sisa organisme mati berukuran besar dipecah menjadi potongan kecil atau detritus. Tujuan fragmentasi yaitu memperluas permukaan bahan organik agar lebih mudah diurai oleh mikroorganisme.

Pencucian (Leaching)

Setelah terfragmentasi, partikel organik memiliki kandungan nutrisi yang larut air. Nutrien tersebut biasanya berupa unsur anorganik yang bisa dimanfaatkan oleh tanaman. Selanjutnya, air hujan atau air tanah akan membawanya masuk ke dalam lapisan tanah yang bisa dijangkau oleh akar tanaman.

Katabolisme (Catabolism)

Pada tahap ketiga ini, jamur dan bakteri melepaskan enzim ke lingkungan. Enzim tersebut mengurai senyawa organik kompleks, seperti karbohidrat, protein, dan lemak, menjadi senyawa anorganik yang lebih sederhana. Bisa dikatakan, tahap ini adalah inti dari proses penguraian.

Humifikasi (Humification)

Humifikasi merupakan proses pembentukan humus, yakni lapisan tanah berwarna gelap dengan kandungan unsur hara yang tinggi. Humus mampu bertahan lama di tanah karena tersusun atas zat-zat kompleks yang sulit diuraikan lebih lanjut. Humus membantu meningkatkan struktur tanah, kesuburan, serta kemampuan dalam menyimpan air.

Mineralisasi (Mineralization)

Saat tahap mineralisasi, terjadi pengubahan sisa bahan organik menjadi mineral anorganik. Proses ini menghasilkan unsur hara penting yang bisa diserap oleh tanaman, seperti nitrat (NO3) dan fosfat (PO43–). Selain itu, zat lain seperti CO2, H2O, NH4+, Ca2+, dan SO42– juga akan dilepaskan ke dalam tanah serta lingkungan.

Baca juga: 10 Contoh Sampah Organik dan Jenisnya yang Wajib Kamu Ketahui

Contoh Dekomposer

Contoh Dekomposer

Berikut ini beberapa contoh dekomposer yang dibagi berdasarkan ekosistemnya:

  • Dekomposer di ekosistem gurun: Kumbang, bakteri, dan kaki seribu.
  • Dekomposer di ekosistem padang rumput: Rayap, bakteri asam, dan jamur. 
  • Dekomposer di ekosistem pegunungan: Jamur bolete, jamur lain (fungus), dan kumbang kulit pinus pegunungan.
  • Dekomposer di ekosistem hutan: Siput, cacing tanah, bakteri tanah, keong, jamur, lumut lendir, kepiting tanah, kelabang.
  • Dekomposer di ekosistem air: Bakteri air tawar, cacing, kerang, lobster, jamur mildew, keong terompet, jamur air, ragi, kepiting, hagfish (ikan laut pemakan bangkai), bulu babi, dan bintang laut granulat.

Itulah penjelasan mengenai dekomposer yang perlu kamu pahami. Mengingat perannya yang sangat krusial terhadap keseimbangan ekosistem, dekomposer menjadi organisme pengurai senyawa organik yang perlu dilindungi populasi dan habitatnya.

Beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menjaga dekomposer adalah menghindari pencemaran tanah dan air, mengurangi penggunaan pestisida, serta menghindari praktik yang merusak struktur tanah.

Selain beberapa hal di atas, kamu juga dapat terlibat aktif dalam berbagai program pelestarian lingkungan lainnya bersama Indonesia Asri. Menariknya, program pelestarian lingkungan di Indonesia Asri selalu dikemas dalam format yang unik, seru, dan kekinian, seperti #AksiAsri.

Lingkungan yang sehat dan asri adalah investasi penting yang perlu disiapkan untuk anak cucu di masa depan. Jadi, segera daftarkan dirimu menjadi Warga Asri dan ambil peran aktif untuk menjaga kelestarian Bumi!

Baca juga: 5 Manfaat Kompos untuk Tanaman yang Wajib Diketahui!

Oleh Tim Indonesia Asri
Indonesia Asri adalah kampanye yang digagas oleh Chandra Asri untuk bersama mewujudkan Indonesia yang lebih asri; Indonesia yang berwawasan lingkungan berkelanjutan untuk kelak dapat menjadi warisan bagi generasi mendatang.
Indonesia Asri
© 2026 - Indonesia Asri
Kampanye oleh