Carbon Capture and Storage (CCS): Pengertian dan Manfaatnya

Oleh Tim Indonesia Asri

Saat ini, banyak teknologi dikembangkan untuk mengurangi dampak dari emisi karbon, salah satunya carbon capture and storage (CCS). 

Teknologi ini banyak digunakan oleh pabrik dan fasilitas pembangkit listrik untuk mengurangi emisi karbon, yang menjadi penyebab utama pemanasan global. Ingin tahu cara kerja carbon capture and storage serta manfaatnya? Simak artikel ini hingga akhir!

Apa Itu Carbon Capture and Storage (CCS)?

Apa Itu Carbon Capture and Storage (CCS)

Carbon capture and storage adalah teknologi yang “menangkap” emisi karbon dioksida dari proses operasional (biasanya di industri) atau dari proses pembakaran energi fosil untuk keperluan pasokan energi. 

Emisi karbon yang ditangkap akan disalurkan melalui kapal atau jaringan pipa, lalu disimpan di bawah tanah untuk diisolasi secara permanen. Carbon capture and storage juga bisa berarti menghilangkan karbon dioksida dari atmosfer secara langsung atau tidak langsung. Nama lain dari carbon capture and storage (CCS) adalah sequestration

Lantas, mengapa CCS penting? Perlu diketahui bahwa emisi karbon adalah salah satu penyebab utama dari perburukan dampak pemanasan global dan perubahan iklim. 

Statista mengungkapkan data emisi karbon tahunan secara global mulai tahun 1940 hingga 2025. Faktanya, Statista memprediksi bahwa di tahun 2025, emisi karbon tahunan global dapat menyentuh angka 38,11 miliar ton metrik, meningkat dari tahun 2024, yaitu sebesar 37,78 miliar ton metrik. 

Kemudian, Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menekankan bahwa untuk bisa merealisasikan Persetujuan Paris, di mana batas kenaikan suhu Bumi adalah 1,5 derajat Celcius, umat manusia memerlukan lebih dari sekadar mengurangi emisi karbon, tetapi juga memanfaatkan teknologi agar bisa menghilangkan karbon dioksida di atmosfer. 

CCS dapat menjadi salah satu terobosan untuk mengisi peran tersebut, bersamaan dengan teknologi lainnya yang mungkin sedang dikembangkan. 

Baca juga: 3 Hal Sederhana untuk Mengurangi Perubahan Iklim

Cara Kerja Carbon Capture and Storage

Cara Kerja Carbon Capture and Storage

Carbon capture and storage (CCS) bekerja dalam tiga tahapan umum, yaitu fase menangkap karbon dioksida, fase transportasi, dan fase penyimpanan. Adapun penjelasan selengkapnya adalah sebagai berikut:

Fase Menangkap Emisi Karbon

Fase pertama adalah menangkap emisi karbon. Maksudnya, emisi karbon dari proses industri dan pembangkit listrik ditangkap sebelum dilepaskan ke atmosfer. Meski begitu, fase ini juga bisa dilakukan dengan menangkap karbon dioksida yang sudah berada di atmosfer, namun masih dikembangkan lebih lanjut. 

Beberapa cara untuk menghilangkan karbon dioksida yang lazim dilakukan adalah post-combustion, pre-combustion, dan pembakaran oxyfuel

Pada post-combustion, karbon dioksida dari proses pembakaran akan “ditangkap” dari gas buang (exhaust gas). Proses ini dikenal sebagai salah satu proses yang paling konvensional, khususnya pada fasilitas pembangkit listrik. 

Di sisi lain, pre-combustion menangkap karbon dioksida sebelum membakar energi fosil. Energi ini akan dibakar sebagian untuk menciptakan gas sintetis, kemudian emisinya ditangkap dari aliran gas buang murni. 

Umumnya, pre-combustion dilakukan pada pembuatan pupuk, produksi energi, dan produksi bahan bakar gas kimia. Uniknya, teknik ini dapat menghasilkan hidrogen yang bisa dipisahkan untuk menjadi bahan bakar. 

Lalu, pada teknik pembakaran oxyfuel, energi fosil akan dibakar dengan oksigen sehingga tidak menggunakan udara. Alhasil, gas buang yang dihasilkan sebagian besar mengandung karbon dioksida dan uap air. Uap air akan terkondensasi, sementara karbon dioksidanya dapat ditransportasikan untuk disimpan. 

Fase Transportasi

Fase transportasi adalah proses mengirimkan karbon dioksida yang sudah dikumpulkan. Emisi ini akan dikompresi terlebih dahulu dan didehidrasi sebelum dikirimkan. 

Umumnya, proses transportasi karbon dioksida menggunakan jaringan pipa, kapal khusus untuk mengangkut karbon dioksida cair atau gas, atau tangki khusus. 

Fase Penyimpanan

Sesampainya karbon dioksida di lahan penyimpanan, emisi akan disuntikkan ke formasi batu yang ada jauh di bawah tanah. Jaraknya bahkan bisa lebih dari satu kilometer dari permukaan Bumi. 

Formasi batuan ini memiliki peran yang sama dengan formasi batuan yang mengikat minyak bumi dan gas alam di perut bumi selama jutaan tahun. Nantinya, karbon dioksida akan disimpan di formasi batuan ini secara permanen. 

Atau, karbon dioksida tersebut bisa didaur ulang untuk proses industri lainnya. Contohnya, karbon dioksida dapat disuntikkan ke ladang minyak bumi untuk meningkatkan jumlah minyak yang bisa diekstraksi. 

Baca juga: Ekonomi Hijau: Prinsip & Penerapannya untuk Masa Depan

Contoh Penerapan Carbon Capture and Storage

Contoh Penerapan Carbon Capture and Storage

Carbon capture and storage (CCS) pertama kali beroperasi di Amerika Serikat, tepatnya pada tahun 1972. Bahkan, negara ini sekarang memiliki kurang lebih sepuluh CCS berskala besar. Selain Amerika Serikat, berikut sejumlah negara yang menerapkan CCS:

  • Kanada: Kanada memiliki sejumlah CCS, salah satunya Weyburn-Midale yang sudah menyimpan 2 juta ton metrik karbon dioksida sejak tahun 2000. 
  • Norwegia: Norwegia adalah salah satu pionir CCS, di mana Sleipner Field sudah menyimpan karbon dioksida sejak 1996. Emisi karbon yang ditangkap kemudian dipisahkan, kemudian disuntikkan ke formasi garam bawah tanah. 
  • Tiongkok: Negara ini memiliki sejumlah proyek CCS, tetapi belum banyak fasilitas skala besar yang dikembangkan. 
  • Eropa: Uni Eropa mendukung CCS melalui Emissions Trading System, namun progresnya cenderung lambat karena hanya proyek operasional yang dijalankan. 

Di Indonesia, Chandra Asri Group sebagai perusahaan solusi kimia, infrastruktur, dan energi, telah meninjau potensi CCS Hub di Indonesia. Dengan pengalaman dalam mengoperasikan infrastruktur terintegrasi, Chandra Asri Group optimis bisa mengembangkan CCS Hub di Nusantara. 

Demikian informasi terkait carbon capture and storage yang bisa kamu pelajari. Saat ini, cuaca ekstrem mulai sering terjadi serta suhu muka air laut mulai menghangat. Artinya, kita perlu upaya nyata dalam mengurangi dampak pemanasan global untuk masa depan umat manusia dan Bumi. 

Selain menggunakan teknologi untuk mengurangi emisi karbon, seperti CCS, kamu sebagai individu juga bisa berkontribusi terhadap kesehatan dan kelestarian Bumi, lho!

Salah satu caranya adalah bergabung dengan Indonesia Asri. Kampanye lingkungan dari Chandra Asri Group ini menawarkan banyak program pelestarian lingkungan, salah satunya #AksiAsri.

Melalui kampanye ini, kamu dapat berpartisipasi dalam berbagai challenge bertema keberlanjutan dan memperoleh kesempatan mendapatkan hadiah di setiap aktivitasnya.

Tunggu apalagi? Daftarkan dirimu sekarang dan berikan aksi nyata untuk kelestarian Bumi!

Baca juga: Daftar Kota Paling Boros Listrik di Asia. Ini Datanya!

Oleh Tim Indonesia Asri
Indonesia Asri adalah kampanye yang digagas oleh Chandra Asri untuk bersama mewujudkan Indonesia yang lebih asri; Indonesia yang berwawasan lingkungan berkelanjutan untuk kelak dapat menjadi warisan bagi generasi mendatang.
Indonesia Asri
© 2026 - Indonesia Asri
Kampanye oleh