Inti Pembahasan
- Jejak karbon adalah jumlah emisi gas rumah kaca dari aktivitas manusia.
- Sektor transportasi, energi, agrikultur, dan manufaktur menjadi penyumbang terbesar emisi karbon.
- Untuk menghitung jejak karbon, kamu bisa mengalikan data aktivitas dengan faktor emisi.
Jejak karbon adalah aspek yang perlu kita perhatikan karena makin banyak emisi yang dihasilkan, makin besar dampaknya terhadap iklim. Lantas, apa itu jejak karbon dan bagaimana cara menghitungnya? Berikut adalah penjelasan lengkapnya.
Apa Itu Jejak Karbon?
Jejak karbon adalah jumlah emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari berbagai macam aktivitas manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung. Emisi langsung mencakup pembakaran dalam berbagai aktivitas, sedangkan emisi tidak langsung berasal dari proses menghasilkan listrik.
Jejak karbon menghitung karbon dioksida, metana, nitrous oxide, dan klorofluorokarbon (CFC). Gas-gas tersebut berkontribusi pada pemanasan global dan perubahan iklim.
Jumlah jejak karbon yang dihasilkan setiap orang atau pihak dapat berbeda, tergantung pada pola konsumsi, gaya hidup, lokasi, dan faktor lainnya. Statista menjelaskan bahwa total emisi karbon dunia dari industri dan pembakaran bahan bakar menyentuh 38,11 miliar metrik ton pada tahun 2025. Sejak tahun 1990, emisi karbon telah meningkat lebih dari 69%.
Lebih lanjut, Emissions Database for Global Atmospheric Research (EDGAR) menjabarkan bahwa Tiongkok, Amerika Serikat, India, 27 negara Uni Eropa, Rusia, dan Indonesia merupakan penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar pada tahun 2024. Jika digabungkan, negara-negara tersebut mengonsumsi 64,2% bahan bakar dunia dan menyumbang 61,8% emisi gas rumah kaca dunia.
Itulah mengapa penting untuk memerhatikan jumlah emisi karbon yang dihasilkan agar tidak makin memperburuk pemanasan global dan perubahan iklim.
Apa Itu Kontributor Jejak Karbon?

Kontributor jejak karbon adalah pihak dan sektor yang berkontribusi pada emisi karbon. Aktivitas pribadi, seperti berkendara dengan kendaraan berbahan bakar minyak, memang menyumbang emisi karbon, tetapi dampak emisi dari industri jauh lebih signifikan.
Lantas, siapa saja kontributor jejak karbon? Beberapa sektor utamanya adalah transportasi, energi, manufaktur, dan agrikultur. Berikut adalah informasinya:
Transportasi
Sektor transportasi merupakan kontributor terbesar emisi karbon dunia. Statista menjelaskan bahwa transportasi darat menyumbang 74,33% dari emisi karbon dunia pada tahun 2024, disusul oleh penerbangan internasional (6,37%), pengiriman internasional (6,12%), pengiriman dalam negeri (4,55%), transportasi lainnya (4,05%), penerbangan dalam negeri (3,53%), dan kereta api (1,05%).
Lebih lanjut, International Energy Agency (IEA) mencatat bahwa 60% emisi transportasi darat tahun 2024 berasal dari mobil penumpang, lalu sisanya diisi oleh truk, bus, sepeda motor, dan kendaraan roda 3.
Emisi karbon sektor ini dihasilkan dari proses pembakaran bahan bakar minyak (BBM), seperti solar dan bensin. Proses ini menghasilkan karbon dioksida, sehingga semakin sering kamu mengendarai kendaraan pribadi, makin banyak emisi karbon yang dihasilkan.
Baca juga: Cara Menghitung Emisi Karbon dengan Contoh Penerapannya
Energi
Sektor energi juga berkontribusi secara signifikan pada emisi karbon, khususnya industri pembangkit listrik yang sebagian besar energinya didapatkan dari pembakaran energi tak terbarukan (batu bara, gas alam, dan minyak bumi). Proses pembakaran ini melepaskan karbon dioksida ke atmosfer sehingga dapat memperburuk pemanasan global.
IEA menjabarkan bahwa emisi karbon dari sektor energi global meningkat 0,4% pada tahun 2025, lebih lambat dibandingkan dengan tahun 2021. Meski terkesan lambat, emisi karbon yang dihasilkan pada tahun tersebut menyentuh 145 juta ton, sekitar 5% lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2019.
Industri dan Manufaktur
Proses-proses industri umumnya menghasilkan emisi karbon, mulai dari produksi hingga distribusi produk. IEA mencatat bahwa proses industri menghasilkan 40 juta ton karbon dioksida pada tahun 2025. Sejumlah industri yang berkontribusi secara signifikan pada emisi karbon di antaranya adalah industri semen, baja, dan elektronik.
Agrikultur
Sektor agrikultur sering kali membuka lahan dengan membakar hutan maupun semak sehingga menyumbang emisi karbon ke atmosfer. Tidak hanya itu, proses deforestasi untuk pembukaan lahan juga mengurangi jumlah pohon yang dapat menyerap dan mengurangi emisi karbon di atmosfer, sehingga jumlahnya tetap tinggi.
Terlebih lagi, sektor peternakan melepaskan gas metana yang memiliki dampak pemanasan global yang lebih kuat daripada karbon dioksida karena struktur molekulnya bergetar lebih efisien dan menyerap radiasi inframerah, sehingga lebih efektif dalam memerangkap panas.
Baca juga: Kredit Karbon: Pengertian, Manfaat, dan Cara Kerjanya
Cara Menghitung Jejak Karbon

Jejak karbon dinyatakan dalam karbon dioksida ekuivalen (CO2e). Untuk menghitungnya, kamu dapat mengalikan data aktivitas penghasil emisi karbon dengan faktor emisi.
Data aktivitas bisa didapatkan dengan mengidentifikasi apa saja kegiatan yang memproduksi emisi gas rumah kaca, baik secara langsung maupun tidak langsung. Misalnya, kamu bisa memperoleh jumlah konsumsi listrik dari meteran (biasanya dinyatakan dalam kWh). Sementara itu, faktor emisi adalah koefisien yang mendeskripsikan tingkat suatu aktivitas yang melepaskan gas rumah kaca ke atmosfer.
Misalnya, 1 kWh listrik memiliki faktor emisi setara dengan 0,85 kg CO2e. Jika kamu mengonsumi 200 kwh listrik, maka perhitungannya adalah sebagai berikut:
Jejak karbon = data aktivitas × faktor emisi = 200 kWh × 0,85 kg CO2e = 170 kg CO2e.
Setelah mendapatkan angka jejak karbon dari berbagai aktivitas, kamu bisa menjumlahkan seluruh angka tersebut dan mengevaluasi aktivitas mana yang perlu dikurangi atau dioptimalkan.
Apabila kamu masih bingung atau kesulitan menghitungnya, kamu bisa memanfaatkan kalkulator jejak karbon gratis yang ada di internet.
Ayo Kurangi Jejak Karbon bersama Indonesia Asri!
Agar Bumi terus sehat, kita perlu mengurangi jejak karbon, misalnya memilih transportasi rendah emisi dan menghemat penggunaan listrik. Selain itu, kita juga perlu memilah dan mengolah sampah agar tidak menumpuk dan menimbulkan polusi.
Untuk memulai kebiasaan asri ini, kamu bisa mengikuti #AksiAsri dari Indonesia Asri! Terdapat banyak program yang bisa kamu ikuti, termasuk Operasi Semut yang membantumu memilah sampah sebelum dibuang.
Yuk, jadi Warga Asri sekarang dan berikan kontribusi terbaikmu pada Bumi agar tetap lestari!
Baca juga: Mengenal Carbon Offset dan Manfaatnya bagi Lingkungan
Frequently Asked Questions (FAQ)
Berikut adalah beberapa pertanyaan seputar jejak karbon yang mungkin ditanyakan:
1. Apa Saja Contoh Jejak Karbon dalam Kehidupan Sehari-Hari?
Emisi dari kendaraan pribadi yang menggunakan BBM, konsumsi listrik berlebihan, pembakaran sampah, dan aktivitas industri.
2. Sebutkan 3 Langkah Nyata Sehari-Hari untuk Mengurangi Emisi Karbon
Menghemat penggunaan listrik, mengurangi sampah makanan, beralih ke transportasi umum atau ramah lingkungan, dan beralih ke sumber energi terbarukan.
3. Apa Saja Contoh Emisi Karbon?
Emisi karbon umumnya mengandung karbon dioksida, metana, dan dinitrogen oksida. Contoh sumber emisi karbon adalah pembakaran sampah secara terbuka, penggunaan listrik dari energi tak terbarukan, proses pencernaan hewan ternak, dan lain-lain.