Table of Contents
Sampah organik dari sisa makanan dan dedaunan ternyata bisa diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat, lho. Salah satunya adalah pupuk kompos dari sampah organik. Pupuk ini dapat digunakan untuk menyuburkan tanah dan mendukung pertumbuhan tanaman di kebunmu.
Menariknya, pupuk organik ini bisa kamu buat sendiri di rumah dengan bahan sederhana dan langkah-langkah yang mudah untuk dipraktikkan. Nah, supaya kamu tidak salah langkah, yuk kenali lebih dulu apa itu kompos, manfaatnya, dan cara membuatnya dalam artikel berikut ini.
Apa Itu Kompos?

Kompos adalah hasil penguraian bahan organik yang dapat dimanfaatkan untuk membantu memperbaiki kondisi dan kesuburan tanah. Bahan organik yang dapat digunakan untuk membuat kompos dapat berasal dari sisa makanan, daun kering, rumput, maupun bagian tanaman lainnya.
Dalam proses pengomposan, mikroorganisme berperan dalam menguraikan bahan organik hingga menjadi material yang kaya akan unsur hara. Lama prosesnya bervariasi, umumnya sekitar 2 minggu hingga 6 bulan, tergantung pada metode, jumlah dan jenis bahan organik, serta kondisi lingkungan di sekitarnya.
Saat sudah matang, kompos biasanya memiliki warna yang lebih gelap, tekstur remah, serta aroma yang menyerupai tanah segar. Ciri tersebut dapat membantu kamu mengenali kompos yang sudah siap digunakan.
Kompos sampah organik menjadi salah satu cara pengelolaan sampah organik yang memiliki manfaat baru. Dengan proses yang tepat, kamu bisa memanfaatkannya untuk mendukung pertumbuhan tanaman sekaligus mengelola sampah di rumah.
Manfaat Kompos

Kompos memiliki banyak manfaat bagi tanaman dan tanah. Berikut beberapa manfaat kompos yang perlu kamu ketahui:
- Meningkatkan kesuburan tanah: Kompos mengandung berbagai nutrisi yang dibutuhkan tanaman untuk mendukung pertumbuhannya, seperti nitrogen, fosfor, dan kalium. Kandungan tersebut membantu menyediakan nutrisi bagi tanaman sekaligus menjaga kondisi tanah agar mendukung pertumbuhan akar.
- Memperbaiki struktur tanah: Penambahan kompos dapat membantu membuat tanah lebih gembur dan memiliki struktur yang lebih baik. Kondisi ini membuat akar lebih mudah berkembang serta membantu menciptakan ruang bagi udara dan air di dalam tanah.
- Membantu menjaga kelembapan tanah: Kompos memiliki kemampuan menyimpan air sehingga dapat membantu mempertahankan kelembapan tanah. Dengan begitu, air tidak cepat hilang dan tanaman dapat memperoleh air yang dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhannya.
- Membantu menjaga tanaman dari hama dan gulma: Penggunaan kompos dapat mendukung keseimbangan ekosistem tanah dan membantu tanaman tumbuh lebih sehat sehingga lebih mampu menghadapi gangguan organisme pengganggu tanaman, seperti hama (organisme atau hewan yang merusak tanaman atau produk pertanian) dan gulma (tumbuhan yang merugikan tanaman lainnya).
Baca juga: 5 Aspek Perbedaan Sampah Organik dan Anorganik, Lengkap dengan Contohnya
Alat dan Bahan Membuat Kompos

Sebelum mulai membuat kompos sampah organik, pastikan kamu sudah menyiapkan beberapa alat dan bahan berikut agar proses pembuatannya menjadi lebih mudah:
Alat:
- Wadah atau ember komposter yang memiliki lubang sirkulasi udara.
- Sarung tangan untuk menjaga kebersihan tangan selama proses pengolahan.
- Sekop kecil untuk mencampur dan mengaduk bahan kompos.
- Pisau atau alat pemotong untuk mencacah bahan organik.
Bahan:
- Sisa sayuran dan buah yang sudah tidak digunakan.
- Daun kering atau rumput.
- Tanah adalah salah satu media pengurai.
- Air secukupnya untuk menjaga kelembapan.
- Bahan cokelat, seperti daun kering atau potongan ranting kecil, digunakan sebagai sumber karbon.
- Aktivator kompos digunakan jika diperlukan untuk membantu proses penguraian.
Cara Membuat Kompos dari Sampah Organik

Membuat kompos sampah organik di rumah sebenarnya cukup sederhana, asalkan bahan tersedia dan prosesnya dilakukan dengan tepat. Kamu bisa mengikuti beberapa langkah berikut untuk membuatnya:
1. Pilah Sampah Organik
Pisahkan bahan organik yang dapat dikomposkan, seperti sisa sayuran, buah, daun kering, dan bagian tanaman lainnya. Hindari bahan yang membutuhkan waktu lama untuk terurai, seperti tulang ikan atau cangkang telur, agar proses pengomposan berjalan lebih optimal.
2. Cacah Bahan Menjadi Lebih Kecil
Setelah memilah bahan, kamu bisa melanjutkan dengan mencacah atau memotong bahan organik menjadi potongan-potongan kecil. Hal ini bertujuan untuk memperluas permukaan bahan agar lebih mudah diuraikan oleh mikroorganisme dan mempercepat proses pengomposan.
3. Siapkan Wadah Komposter
Selanjutnya, siapkan ember atau wadah komposter yang memiliki lubang untuk sirkulasi udara dan drainase. Kemudian, letakkan wadah tersebut di tempat teduh yang terlindung dari hujan langsung agar kondisi kompos di dalamnya tetap terjaga.
4. Masukkan Bahan Secara Berlapis
Setelah bahan organik dicacah, masukkan ke dalam wadah komposter secara berlapis agar proses penguraian berjalan lebih seimbang. Kamu bisa membuat lapisan dari bahan basah, seperti sisa sayuran dan kulit buah, lalu menambahkan bahan kering seperti daun kering atau rumput.
Usahakan setiap lapisan tidak terlalu tebal agar udara tetap dapat masuk ke dalam campuran. Setelah itu, lanjutkan penyusunan secara bergantian hingga seluruh bahan dimasukkan ke dalam komposter.
5. Jaga Kelembapan
Hal yang juga perlu kamu perhatikan adalah memastikan campuran kompos dalam kondisi lembap, tetapi tidak terlalu basah atau terlalu tergenang. Jika campuran terlihat kering, tambahkan sedikit air. Sebaliknya, apabila campuran terlalu basah, tambahkan bahan kering dan aduk hingga merata.
Baca juga: Yuk, Praktikkan 8 Cara Pengelolaan Sampah Organik di Rumah!
6. Tambahkan Tanah atau Aktivator Jika Diperlukan
Kamu juga dapat menambahkan sedikit tanah untuk membantu menyediakan mikroorganisme pengurai. Aktivator kompos juga bisa digunakan sesuai petunjuk untuk membantu mempercepat proses penguraian.
7. Aduk Kompos Secara Berkala
Aduk campuran secara berkala untuk memasukkan oksigen dan meratakan kelembapan sehingga proses penguraiannya berlangsung lebih optimal.
8. Biarkan Proses Penguraian Berlangsung
Setelah semua bahan tercampur, biarkan mikroorganisme menguraikannya secara alami dalam wadah komposter. Waktu yang dibutuhkan hingga kompos matang umumnya berkisar antara 2 minggu hingga 6 bulan, tergantung pada kondisi dan metode pengomposan.
9. Pastikan Kompos Sudah Matang
Kompos yang matang umumnya berwarna cokelat tua atau kehitaman, bertekstur remah, bersuhu stabil, dan beraroma seperti tanah. Jika bentuk awal bahan sudah sulit dikenali dan beberapa ciri tersebut terpenuhi, berarti kompos sudah matang dan siap digunakan.
Ciri-Ciri Kompos yang Sudah Matang

Kompos yang sudah matang memiliki beberapa ciri yang bisa kamu perhatikan sebelum menggunakannya untuk tanaman. Berikut tanda-tandanya:
- Berwarna cokelat tua atau kehitaman, menyerupai warna tanah.
- Memiliki tekstur remah sehingga bahan penyusunnya tidak lagi mudah dikenali.
- Beraroma seperti tanah, bukan bau menyengat dari bahan organik yang sedang membusuk.
- Memiliki suhu yang stabil, tidak terasa panas selama proses penguraian berlangsung.
- Tidak mengeluarkan cairan berlebih karena tingkat kelembapannya sudah lebih seimbang.
- Bahan organik sudah terurai sehingga bentuk awal seperti daun atau sisa makanan sulit dikenali.
Mari Bagikan Gaya Hidup Berkelanjutan Lewat Jejak Asri
Mengolah kompos dari sampah organik merupakan salah satu langkah sederhana untuk menerapkan gaya hidup yang lebih berkelanjutan. Kamu juga bisa melanjutkan kebiasaan baik ini dengan memilih berbagai pilihan yang lebih ramah lingkungan dalam keseharian, termasuk menggunakan kendaraan berbahan bakar yang lebih ramah lingkungan.
Nah, kamu juga bisa mengajak lebih banyak orang untuk melakukan aksi serupa melalui kampanye Jejak Asri dari Indonesia Asri. Lewat Jejak Asri, kamu dapat membagikan cerita tentang aksi sederhana yang telah kamu lakukan untuk menjaga lingkungan dalam bentuk cerita inspiratif, sehingga dapat menginspirasi lebih banyak orang untuk mewujudkan Indonesia yang lebih asri.
Submit ceritamu sebelum 16 Oktober 2026 dalam format cerita panjang minimal 700 kata yang dapat ditulis sesuai kreativitasmu. Kamu juga bisa melengkapinya dengan foto dan video.
Nantinya, cerita akan dinilai oleh juri serta berdasarkan vote pengunjung website Indonesia Asri. Bagi yang ceritanya terpilih, akan berkesempatan mendapatkan hadiah jutaan rupiah serta dipublikasikan di website Indonesia Asri, dengan ketentuan dan syarat yang berlaku.
Jadi, tunggu apa lagi? Yuk, segera bagikan aksi baikmu dan jadikan ceritamu sebagai inspirasi bagi Warga Asri lainnya!
Baca juga: 10 Contoh Sampah Organik dan Ragam Jenisnya yang Wajib Kamu Tahu!